Kamis, 22 Mei 2014
3. INJIL DIDACHE
INJIL DIDACHE
Injil
Prespektif Baru Yang Terungkap di Yerusalem,
Memuat 20 Butir Kabar Gembira Tentang Nabi Muhammad.
Memuat 20 Butir Kabar Gembira Tentang Nabi Muhammad.
PENGANTAR PENERBIT
NABI
Muhammad Shallallahu
Alaihi wa Sallam diutus oleh Allah Subhanahu
wa Ta'ala sebagai penyempurna akhlak (etika), rahmat bagi
alam semesta serta penutup para Nabi dan Rasul. Hal ini tentu mempunyai
indikasi yang kuat; baik tentang kabar gembira mengenai kedatangannya yang
telah disampaikan oleh Nabi-nabi terdahulu, maupun bukti-bukti kebenarannya.
Bumi berputar, waktu bergulir dan zaman telah berubah, namun bukti-bukti yang
sangat menakjubkan tentang kebenaran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah surut, bahkan semakin kuat.
Ajaran yang
disampaikan oleh Nabi Musa dan Nabi Isa Alaihissalam selalu menekankan tentang akan datangnya Nabi yang
diimpiimpikan untuk membebaskan dunia dan bangsa-bangsa dari penindasan dan
kezhaliman. Di dalam lima Kitab Taurat yang menyebutkan tentang nubuat-nubuat, semuanya menunjuk kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Jadi, Nabi yang dinanti-nanti itu bukan Nabi Isa Alaihissalam, melainkan beliau adalah Nabi yang agung yang diutus
oleh Tuhan pada waktunya untuk menyampaikan kabar gembira tentang Nabi Muhammad
Shallallahu
Alaihi wa Sallam. Dia dan Yahya-yang terkenal di kalangan Kristen dengan nama Yohanes Pembaptis - Alaihissallam, bukan
Al-Masih Pemimpin. Keduanya adalah AI-Masih biasa.
Berangkat dari sinilah MUHAMMAD ZAINUDDIN, S.Pd terpanggil untuk mengangkat dan membahas kembali tentang Injil Didache. Saya ingin menjelaskan
keshahihan Injil Didache seperti sebelumnya, menjelaskan keshahihan Injil
Barnabas. Pertanyaannya kemudian, kenapa harus INJIL DIDACHE? Apa urgensinya membahas Injil ini dan di mana letak relevansinya dengan
bukti kebenaran Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam?
Injil yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan
dimuat dalam majalah "Al-Muqtathaf" ini, memuat tentang "Dua Puluh Butir Kabar Gembira" tentang Nabi
Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Baik penulis INJIL DIDACHE maupun pengkaji Injil tersebut mempunyai keyakinan seperti itu bukannya
tanpa bukti, karena mereka mempunyai beberapa data yang valid tentang kabar
gembira itu. Mulai dari pembahasan kabar gembira pertama tentang kerajaan surga
sampai kabar gembira kedua puluh tentang permohonan kepada Tuhan untuk
memperlihatkan kemuliaan-Nya, semuanya menguatkan eksistensi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Selain itu penuLis juga memaparkan bukti-bukti kongkrit tentang validitas kabar gembira itu, di antaranya:
Pertama, semua kitab samawi (baik Taurat maupun Injil) menyebutkan bahwa Al-Masih Pemimpin adalah sosok yang mampu meruntuhkan Kekaisaran Romawi.
Sedangkan tidak ada di antara Nabi Musa dan Isa Alaihissalam yang mengalahkan Kekaisaran
Romawi, melainkan keruntuhannya pada zaman Nabi Muhammad.
Kedua, Injil Didache
tidak menyatakan bahwa Nabi Isa Alaihissalam adalah Nabi yang akan diutus di akhir zaman. la justru menyebutkan bahwa
penganut Kristen yang tidak mengimani Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam akan dikutuk, sedangkan penganut
Kristen yang mengimaninya akan menjadi orang kudus (suci).
Ketiga, Sebutan orang Kristen (AI-Masihi) baru diberikan kepada murid-murid
Yesus (An-Nashara) setelah AI-Kitab diubah pada Konsili Niqiyyah tahun
325 M. Sebab, berdasarkan bahasa mereka, Al-Masih adalah julukan bagi Nabi
Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, serta di dalam Injil Matius: 23 dan seterusnya, Isa Alaihissalam juga mengabarkannya dengan julukan
AI-Masih. Pada waktu itu, para pengikut Yesus disebut orang-orang Nasrani (Nashraniyyun), bukan orang-orang Kristen
(Masihiyyun). Setelah AI-Kitab diubah, barulah mereka dikenal dengan sebutan
orang-orang Kristen. Dengan demikian, tidak disebutkannya kata `orang Kristen'
di dalam DIDACHE menunjukkan bahwa ia ditulis sebelum terjadi
pengubahan terhadap AI-Kitab.
Keempat, orang-orang Yahudi
memberikan sebutan `Mesias' atau `AIMasih Pemimpin' kepada Nabi yang
ditunggu-tunggu yang akan datang seperti Musa. Mereka mengatakan bahwa julukan
"Anak Tuhan" dan julukan `Tuhan' di dalam Mazmur adalah julukan-julukan Nabi itu. Julukan "Anak Manusia" di dalam Kitab Daniel pun merupakan julukannya. Ingatah akan hal ini, dan ingatlah bahwa murid-murid
Yesus sepakat akan hal ini. Kemudian, ingatlah bahwa Isa Alaihissalam di dalam Injil-injil Kanonik
menolak julukan AI-Masih Pemimpin bagi dirinya, bahkan ia menafikan kedatangan
AI-Masih Pemimpin dari kalangan orang-orang Yahudi. Dia menjelaskan bahwa
Al-Masih Pemimpin itu akan datang dari Bani Ismail.
Masih banyakbukti-bukti dan fenomena yang menunjukkan bahwa Nabi terakhir
yang ditunggu-tunggu dan pemimpin para rasul adalah Rasulullah Muhammad Shallallahu
Alaihi wa Sallam, sebagaimana yang dieksplorasi dalam buku ini.
Pembaca budiman, buku ini sangat bermanfaat bagi kita umat manusia untuk
melacak otentisitas ajaran dan kebenaran tentang Nabi Muhammad Shallallahu
Alaihi wa Sallam. Semoga kehadiran buku ini semakin menambah
khasanah cakrawala intelektual kita. Amin.
2. IMPERALISME DAN KOLONIALISME BARAT
MPERALISME DAN
KOLONIALISME
DI INDONESIA
O
L
E
H
MUHAMMAD
ZAINUDDIN, S.Pd
STAF
GURU
SMA NW PANCOR
TAHUN 2004 SAMPAI DENGAN 2006
Arti Imperialisme
Kata Imperialisme berasal dari kata bahasa Latin “Imperare” artinya
hak untuk memrintah. Karena yang punya hak untuk memerintah adalah Raja, maka
Raja disebut “Imperator” sedangkan wilayah kekuasaannya disebut “Imperium”.
Pada zaman kuno, kebesaran Raja diukur dari luas daerah
kekuasaannya. Sehingga timbul keinginan untuk memperluas wilayahnya dengan cara
merebut daerah kerajaan lain.
Tindakan seperti itulah yang menjadi awal pengertian Imperialisme.
Macam-macam Imperialisme :
Imperialisme kuno
Imperialisme Politik
Imperialisme Modern
Imperialisme Ekonomi
Imperialisme Kebudayaan
Imperialisme Militer
Imperialisme adalah sebagai suatu paham yang muncul pertama kali di
Inggris pada masa Disraeli menjadi Perdana Mentri abad 19 sebagai lukisan sikap
politik Prancis pada masa Napoleon III ( 1815 – 1970 ) Lihat Michael A. Riff
(Ed), kamus Ideopolitik Modern Terjemahan M. Miftahuddin dan hartini Silawati (
Yogyakarta Pustaka Pelajar 1955), hal. 94
Imperialisme merupakan politik untuk menguasai (secara paksa)
seluruh dunia untuk kepentingan dairi sendiri; tidak perlu merebut dengan
kekuatan senjata, budaya, agama atau ideologi.
Imperialisme Timbul disebabakan :
Keinginan untuk menjadi jaya ( tersohor ) diseluruh dunia, semua
bangsa bangsa menghendaki untuk menjadi jaya.
Jika suatu negara atau bangsa tidak dapat meulihkan keinginannya itu,
maka mudah sekali bangsa itu menjadi imperalis karena semua bangsa mempunyai
benih imperialisme.
Perasaan Superior (Istimewa).
Tiap bangsa mempunyai harga diri.
Jika harga diri menjadi menebal mudah menjelma menjadi kecongkakan,
merekalah bangsa yang istimewa di dunia ini, misalnya ADOLF HITLER menganggap
bahwa Jerman sebagai “ DAS HENNOORK “ (
bangsa dewa ). Anggapa “ RASIAL SUPERITY
) mudah menjelma menjadi imperialisme yang berbentuk mission sacre ( panggilan
suci ).
Ideologi ( hasrat untuk menyebabkan agama ). Tujuannya adalah agama / ideologi. Akan tetapi jika pernyataan itu didukung oleh
pemerintah, sering tujuan penomena terdesak dan menajdi dasar untuk membenarkan
tindakan imperialisme.
Letak suatu negara yang geografisnya tidak menguntungkan. Batas suatu negara mempunyai arti penting
bagi politik negara itu. Suatu negara
lebih suka mempunyai batas alam dari pada batas buatan manusia. Batas alam dianggap lembih tepat bagi
pertahanan negara. Keinginan untuk
memperoleh batas-batas inilah yang mendorong Raja LOUIS XIII untuk membuat
nergara Belanda sampai sungai Rin serta mendorong Rusia dengan politik air
hangatnya.
Menurut Sartono Kartodirjo bahwa imperialisme berarti pengluasan
kontrol politik ke daerah seberang dan sinonim dengan ekspansi kolonial. Istilah Imperialisme mengandung
bermacam-macam pengertian karena ada interpretasi yang liberalistis, marxistis
dfan interpretasi lainnya.
Sartono Kartodirdjo, “ Kolonialisme dan Nasionalisme di Indonesia pada
abad 19 dan abad 20 dalam Lembaran Sejarah No. 8, Yokyakarta, Fak. Sastra, hal.
1.
Arti Kolonialisme
Selain istilah imperialisme ada juga istilah kolonialisme. Kolonialisme berasal dari nama seorang petani
Romawi yang bernama ‘ COLONUS ‘ yang pergi jauh untuk mencari tanah yang belum
dikerjakan. Lama kelamaan semakin banyak
orang yang mengikutinya dan mereka
bersama-sama menetap dibuah tempat yang kemudian disebut “ COLONIA “, pahamnya
disebut “ Colonialisme “. Koloni
berarti menanam sebagian masyarakat diluar batas dasarnya. Jika koloni – koloni disatukan dengan suatu
sistem pengusahaan maka usaha kearah itu disebut dengan “ Imperalisme “.
Dengan lembaran sejarah manusia, kita temukan banyak rombongan orang
yang meninggalkan tanah airnya untuk mencari daerah baru. Misalnya dari Inggris ke Amerika; dari China ke Asia
Tenggara; dari kawasan Nusantara ke Madagaskar, hal ini banyak disebabakan oleh
:
Kekecewaan terhadap keadaan ekonomi negerinya
Situasi politik dalam negeri sendiri
Mereka ditawan / dibuang sebagai tawanan ke daerah asing
Disamping itu ada pula penjelajahan ke luar negeri untuk mencari
sumber bahan perdagangan seperti : rempah-rempah, emas dan barang-barang
komoditi lainnya.
Dalamarti yang terakhir inilah kapal bangsa Eropa ( Portugis –
Spayol ) mengadakan penjelajahan samudra untuk mencari daerah sumber
rempah-rempah yang tidak dijumpai didunia barat, kemudian mendirikan
kantor-kantor perdagangan, lambat laun kantor perdagangan itu menjadi inti
suatu koloni. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa Kolonalisme adalah
politik untuk menguasai daerah tertentu dengan tujuan untuk memperoleh
keuntungan yang sebesar-besarnya.
Pelopor kolonialisme adalah kaum Avonturir yang datang untuk mencari
keuntungan yang sebesar mungkin dari barang – barang hasil penduduk
pribumi. Mereka mulia mendesak pedagang penduduk asli dan kemudia menaklukkan para
Raja dan Sultan yang berkuasa pada waktu itu.
Menurut CST Kansil dan Julianto bahwa pengertian kolonialisme adalah
rangkaian nafsu suatu bangsa untuk menaklukkan bangsa lain dibidang politik,
sosial, ekonomi dan kebudayaan dengan jalan :
dominasi
exploitasi ekonomi
penetresi kebudayaan ............ (1)
Sedangka imperilaisme pada pokoknya berarti plotik exploitasi
terhadap bangsa lain melulu untuk kepentingan si imperialis ( mother country
). Karenya itu pada hakekatnya tidak ada
perbedaan antara kolonialisme dan imperialisme.
Imperialisme yangs ekarang melanda Asia
ini adalah imperialisme dalam bentuk yang modern yang tidak perlu harus
menduduki suatu daerah sebagai jajahan, tetapi cukup dengan hanya mengontrol atau mengusai ekonominya saja.
Imperialisme dan kolonialisme adalah anak kelahiran Revolusi
Industri. Revolusi Industri sendiri
merupakan anak dari peradaban Eropa.
Adapun anak kelahiran dari peradaban Eropa itu ada 3 (tiga) macam :
Kolonialisme / imperialisme
Liberalisme (menjunjung tinggi individu)
Sosiolisme / Komunisme (menjunjung tinggi kolektif) ..... (2)
Nasionalisme Asia
Pengertian
Nasionalisme Asia adalah aliran yang mencerminkan kebangunan
bangsa-bangsa Asia seabagai reaksi terhadap
kolonialisme dari bangsa-bangsa Eropa Barat.
Nasionalisme adalah dus suatu gerakan yang menentang aksinya
kolonialisme.
Tantangan terhadap kolonialisme ini dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu : secara evolusioner dan revolusioner. Ada pula yang menempuh jalan tak bersenjata
dan ada yang menempuh jalan bersenjata.
Bentuk
Perkenalan Asia dengan kolonialisme Eropa Barat semula membawa maut
bagi Asia; Pertama – tama Asia kalah, tetapi
kemudian dapat mengumpulkan tenaganya kembali untuk menentang. Tantangan ini terjadi diseluruh benua Asia , mulai dari Mesir sampai kaum Feodal, yang
dilanjutkan oleh kaum cendikiawan dan akhirnya rakyat banyak.
Menurut ARNOLD TOYNBEE bahwa ada dua cara / bentuk bangsa Asia menentang kolonialisme Eropa Barat :
ZELOTISME
Suatu caramenentang dengan menolak segala pengaruh dari Barat dan
sambil mengisolir dirinya mencari kekuatan dalam isolasi itu (menentang dengan
jalan isolasi = Jan Romein )
HERODIANISME
Suatu cara menantang dengan mengaper segala cara-cara Barat dan
menggunakan pengaruh Barat itu untuk memperkuat dirinya. ( menentang dengan
jalan meniru = Jan Romein )
Tujuan
Akibat dari kolonialisme ini adalah hampir semua negara-negara Asia
pada abad 18 dan 19 kehilangan kemerdekaan politik dan kebebasan
perekonomiannya juga dilapangan kebudayaannya terlihat pengaruh yang sangat
merugikan.
Pada pokoknya Asia tidak hanya
kehilangan kemerdekaan politik dan tidak hanya menderita dalam lapangan
sosialnya berupa timbulnya kemelaratan dan kesengsaraan, tetapi juga mengalami
terbongkarmya beberapa akar kebudayaannya.
SELENGKAPNYA DISINI
Langganan:
Postingan (Atom)